Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Selasa, 24 Maret 2015

Makalah Sejarah Pendidikan Islam di Mekkah



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Kebudayaan Islam periode Nabi Muhammad saw terbagi menjadi dua periode, yakni periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah dimulai dengan diangkatnya beliau menjadi Nabi dan Rasul. Sedangkan periode Madinah dimulai sejak Hijrahnya Rasulullah dan kaum muslimin ke Madinah setelah lebih kurang 13 tahun berdakwah di Mekkah.
Periode Mekkah, Rasulullah saw berdakwah menegakkan tauhid dan dasar-dasar islam. Karena kentalnya masyarakat Mekkah dengan agama nenek moyang mereka dan keengganan mereka meninggalkan sesembahan mereka. Sehingga Rasulullah banyak mendapatkan kecaman dan siksaan selama berdakwah di Mekkah. Setelah perjuangan panjang lebih kurang 13 tahun, kemudian beliau memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Pada periode Madinah, Rasulullah saw berhasil membangun dan membina masyarakat Islam yang kuat. Hal ini di sebabkan karena antusiasnya masyarakat Madinah dalam memahami Islam yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya yang telah lebih dahulu masuk Islam.
Mekkah sebagai tempat pertama kali Rasulullah dalam berdakwah, tentunya dasar pendidikan yang beliau kembangkan tentu punya nilai kesejarahan yang sangat bermentalitas (ghirah yang kuat). Bagaimana metode, materi, kurikulum, dan proses-proses pendidikan di Mekkah, serta bagaimana kontekstualiasi di masa sekarang, yang sekiranya bisa dijadikan pertimbangan dalam mengembangkan kualitas dalam pendidikan Islam sekarang, hal inilah dalam uraian lebih lanjut akan dijelaskan di makalah ini. Semoga apa yang di deskripsikan dalam makalah ini, senantiasa bisa menjadi inventariasi keilmuwan, khususnya keilmuwan tentang sejarah pendidikan Islam.
B.     RUMUSAN MASALAH
Sehubungan dari latar belakang tersebut, maka makalah ini menjelaskan tentang “Sejarah Pendidikan Islam Masa Rasulullah saw periode Mekkah” dengan rumusan masalah yaitu :
1.      Bagaimana Sejarah Pendidikan Islam di Mekkah?
2.      Bagaimana Tahapan Pendidikan Islam di Mekkah?
3.      Bagaimana Lembaga Pendidikan Islam di Mekkah?
4.      Bagaimana Materi Pendidikan Islam di Mekkah?
5.      Bagaimana Metode Pendidikan Islam di Mekkah?
6.      Bagaimana reaktualiasasi Pendidikan Islam sebagai respon perkembangan dunia pendidikan?
C.    TUJUAN PENULISAN
Dari rumusan masalah tersebut, maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Mengetahui Sejarah Pendidikan Islam di Mekkah
2.      Mengetahui Tahapan Pendidikan Islam di Mekkah
3.      Mengetahui Lembaga Pendidikan Islam di Mekkah
4.      Mengetahui Materi Pendidikan Islam di Mekkah
5.      Mengetahui Metode Pendidikan Islam di Mekkah
6.      Mengetahui reaktualiasasi Pendidikan Islam sebagai respon perkembangan dunia pendidikan


BAB II
PEMBAHASAN
A.    SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI MEKKAH
Pendidikan Islam merupakan warisan dan perkembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman ajaran Islam dalam rangka terbentuknya kepribadian utama menurut Islam. Munculnya ilmu pendidikan telah memotivasi umat Islam untuk menelusuri perjalanan sejarah pendidikan Islam. Sejarah Pendidikan Islam pada masa Rasulullah periode Mekkah, yakni Sejak Nabi diutus sebagai Rasul hingga hijrah ke Madinah-kurang lebih sejak tahun 611 M-622 M atau selama 12 tahun tahun 5 bulan 21 hari, sistem pendidikan Islam lebih bertumpu kepada Nabi. Bahkan tidak ada yang mempunyai kewenangan untuk memberikan atau menentukan materi-materi pendidikan, selain Nabi.
Nabi Muhammad Saw menerima wahyu yang pertama di gua Hira, Mekkah pada tahun 610 M. Dalam wahyu itu termaktub yang artinya sebagai berikut : “Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan (semesta alam)! Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya” (QS. al-Alaq:1-5).
Kemudian disusul oleh wahyu yang kedua, artinya sebagai berikut: “Hai orang berselimut (Muhammad). Bangunlah dan beri peringatan (kaummu)! Dan Tuhanmu Agungkanlah ! Dan bersihkanlah pakaianmu 1 Dan tingggalkanlah dosa (berhala)! Jangan engkau memberi, supaya mendapat lebih banyak! Dan sabarlah (menurut perintah Tuhanmu)” (QS. al-Muddatstsir:1-7).
Dalam wahyu yang mula-mula turun itu, Mahmud Yunus dalam sejarah pendidikan Islam, menyatakan bahwa pembinaan pendidikan Islam pada masa Mekkah ini meliputi :
  1. Pendidikan Keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan mempersekutukanNya dengan berhala, karena Dia Tuhan yang Maha Besar dan Maha Pemurah, sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya.
  2. Pendidikan Aqliyah dan Ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta.
  3. Pendidikan Akhlaq dan Budi Pekerti, Nabi Muhammad Saw mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.
  4. Pendidikan Jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan, bersih pakaian, bersih badan dan bersih tempat kediaman.
B.     TAHAPAN PENDIDIKAN ISLAM DI MEKKAH
Pola pendidikan yang dilakukan Rasulullah Sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang disampaikan kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini Kamaruzzaman di dalam buku Sejarah Pendidikan Islam membagi kepada 3 tahap:
*      Tahap pendidikan Islam secara sembunyi-sembunyi dan perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama Al Quran surat Al Alaq ayat 1-5, Pola pendidikan yang dilakukan adalah sembunyi-sembunyi mengingat kondisi sosial-politik yang belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik isterinya, Khadijah untuk beriman dan menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali ibn Abi Thalib (anak pamannya) dan Zaid ibn Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya). Kemudian sahabat karibya Abu Bakar Siddiq. Secara berangsur-angsur ajakan tersebut di sampaikan secara meluas, tetapi masih terbatas di kalangan keluarga dekat dari suku Quraisy.


*      Tahap pendidikan Islam secara terang-terangan
            Setelah sekitar 3 tahun kemudian turun wahyu agar Rasulullah SAW berdakwah secara terang-terangan. Firman Allah SWT :
Artinya :
Maka sampaikan olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang musyrik ( QS.Al Hijr : 94 )
Perintah dakwah terang-terangan ini seiring dengan semakin bertambah banyaknya jumlah sabahat Nabi SAW serta untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah. Banyak tantangan dan penderitaan yang diterima Nabi dan sahabat-sahabatnya dari kaum Quraisy, namun hal itu tidak menggoyahkan semangat untuk terus mempelajari ajaran Islam dan terus berdakwah.
*      Tahap pendidikan Islam untuk Umum
Kemudian Rasulullah SAW merubah strategi dakwah dengan seruan umum, umat manusia secara keseluruhan. Hal ini dilakukan pada musim-musim haji, ketika banyak kaum diluar Mekkah berdatangan untuk melaksanakan haji. Pada tahapan ini berkat semangat yang tinggi dari para sahabat dalam mendakwahkan ajaran Islam, maka seluruh penduduk Yatsrib masuk Islam kecuali orang-orang Yahudi.
C.    LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM PADA ISLAM MEKKAH
Dalam catatan sejarah pendidikan Islam di periode Mekkah, menyebutkan ada dua tempat yang menjadi lembaga pendidikan Islam pada periode Mekkah, di antaranya :
  • Rumah Arqam ibn Arqam
Rumah Arqam ibn Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah Saw untuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.
  • Kuttab
Kuttab merupakan tempat pendidikan yang paling tua, bahkan ada yang mengatakan Kuttab lahir sebelum datangnya Islam. Pendidikan di Kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi baca tulis sastra, syair Arab, dan pembelajaran berhitung namun setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis al-Quran dan memahami hukum-hukum Islam. Philip K. Hitti menambahkan, bahwasanya materi pelajaran di Kuttab sangat berorientasi kepada al-Qur`an sebagai texbook. Kuttab dalam modernisasi sekarang bisa disamakan dengan madrasah ibtidaiyyah. Adapun waktu belajar di Kuttab, waktu pagi hingga dhuha mempelajari al-Qur`an, dhuha hingga siang mempelajari cara menulis, sedang dhuha hingga siang, mempelajari gramatikal Arab, matematika, dan sejarah.
Dua tempat pendidikan tersebut, menjadi dasar perkembangan tempat-tempat pendidikan yang semakin berkembangnya zaman, adanya inovasi, khususnya pada bangunan tempat pendidikan, guna mengkondusifkan sebuah pengajaran.
D.    MATERI PENDIDIKAN ISLAM DI MEKKAH
Islam yang pertama kali lahir dari tanah Arab, dan tantangan pengajaran tentang Islam pertama kali, bermuara di Mekkah. Mekkah yang sebelum kedatangan Islam, sangat jauh dari nilai-nilai aqidah monotheisme (tauhid) sebagaimana yang sudah di usung oleh junjungan Nabi-nabi sebelumnya. Sebagai implikasinya, Rasulullah dalam penguatan materi pendidikan di periode Mekkah sangat mengutamakan perbaikan aqidah dan tauhid. Materi yang diajarkan hanya berkisar pada ayat-ayat Makiyyah sejumlah 93 surat dan petunjuk-petunjuknya yang dikenal dengan sebutan sunnah dan hadits. Dan materi yang diajarkan menerangkan tentang kajian keagamaan yang menitikberatkan pada keimanan, ibadah dan akhlak.
Secara umum, muatan materi pendidikan pada Islam periode Mekkah yang diberikan oleh Rasulullah di bagi empat bagian, antara lain, yaitu :
*      Pertama, pendidikan tauhid.
Materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyyah. Secara teori, inti sari ajaran ini termuat dalam kandungan surat al-Fatihah [1] : 1-7, dan al-Ikhlas [112] : 1-5. Selain itu, pelaksanaan atau praktek pendidikan tauhid juga yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dengan cara yang sangat bijaksana yaitu dengan menuntun akal pikiran untuk mendapatkan dan meniru pengertian tauhid yang di ajarkan, dan sekaligus beliau memberikan teladan dan contoh bagaimana pelaksanaan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara kongkrit, kemudian beliau memerintahkan agar umatnya mencontoh praktek pelaksanaan tersebut sesuai dengan apa yang dicontohkannya. Berarti di sini Nabi Muhammad SAW telah mampu menyesuaikan diri dengan pola kehidupan masyarakat jahiliah dengan mengajarkan ilmu tauhid secara baik dengan tanpa kekerasan.
*      Kedua, materi pengajaran al-Qur’an.
Dalam materi ini dirinci kepada: (1) Materi baca tulis (dalam dunia sekarang dikenal imla` dan iqra`), (2) Materi menghafal ayat-ayat al-Qur`an, dan (3) Materi pemahaman al-Qur`an (dalam dunia sekarang dikenal fahmi al-Qur`an atau tafsir al-Qur`an (Yunus, 1989: 11-12).
*      Ketiga, pendidikan amal dan ibadah.
Dimana berupa perintah sholat yang awal mulanya, Nabi sholat bersama sahabat-sahabatnya secara sembunyi-sembunyi. Namun setelah Umar ibn Khattab masuk Islam beliau melakukannya secara terang-terangan. Pada mulanya sholat itu belum dilakukan sebanyak lima kali sehari semalam kemudian setelah Nabi Isra’ dan Mi’raj barulah diwajibkan untuk sholat lima waktu. Selain itu, mengajarkan seputar zakat, yakni semasa di Mekkah konsep zakat diberikan kepada fakir miskin dan anak-anak yatim serta membelanjakan harta untuk jalan kebaikan.
*      Keempat, pendidikan akhlaq
Di mana Nabi semasa di Mekkah sangat menekankan kepribadian yang baik (akhlaqul mahmudah), diantaranya :
1.      Adil yang mutlak, meskipun terhadap keluarga atau diri sendiri.
2.      Pemaaf.
3.      Menepati janji, tepat pada waktunya.
4.      Takut kepada Allah semata dan tiada takut kepada berhala.
5.      Berbuat kebaikan kepada kedua orangtua, dan sebagainya.
(Yunus, 1989: 11-12)
Pada Islam Mekkah materi pengajaran al-Quran yang diberikan hanya berkisar pada ayat-ayat al-Quran pada surah-surah yang diturunkan ketika Nabi sebelum Hijrah ke Madinah. Surah yang diturun di Mekkah inilah yang kemudian dikenal dengan nama surah Makkiyah.
E.     METODE PENDIDIKAN ISLAM DI MEKKAH
Pendidikan Islam adalah rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga terjadilah perubahan pribadinya sebagai makhluk individual, sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup (Mahrus & Salim, 2008: 162).
Untuk mencapai pada pengertian pendidikan tersebut tentunya seorang pendidik memerlukan metode-metode yang tepat dalam pelaksanaan pendidikan. Begitu juga dengan Rasulullah dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Adapun metode pendidikan yang dilakukan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya, antara lain :
  1. Metode ceramah.
  2. Dialog.
  3. Diskusi / tanya jawab.
  4. Metode perumpamaan.
  5. Metode kisah.
  6. Metode pembiasaan.
  7. Metode hafalan. (Nizar, 2007:35)
Adapun yang menjadi salah satu faktor penting metode pendidikan Islam, adanya kejayaan pendidikan Islam yang dijalankan Rasulullah Saw. Faktor tersebut ialah “karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Rasulullah Saw adalah al-Qur’an yang hidup (the living Qur’an), artinya pada diri Rasulullah SAW tercermin semua ajaran al-Qur’an dalam bentuk nyata. Beliau adalah pelaksana pertama semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangannya. Oleh karena itu para sahabat dimudahkan dalam mengamalkan ajaran Islam yaitu dengan meniru perilaku Rasulullah Saw.”
F.     KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM PERIODE MEKKAH
Kurikulum merupakan pedoman ataupun dasar dalam pelaksanaan pendidikan. Pada masa Rasulullah kurikulum yang digunakan adalah Al Quran yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami pada saat itu. Al-Qur’an pu merupakan sentral kurikulum saat itu, yang mana kurikulum saat itu masih sering di definisikan dengan materi ajar. Maka, sebagai langkah awal, muatan materinya berfokus pada nilai-nilai tauhid dalam menguatkan militansi untuk beragama Islam. Philip K Hitti pun menambahkan, bahwasanya materi pelajaran atau kurikulum sangat berorientasi kepada al-Qur`an sebagai texbook (Susari, 2004: 33).

G.    TINJAUAN PENDIDIKAN ISLAM PERIODE MEKKAH
Pada era reformasi sekarang, khususnya potret pendidikan Islam di Indonesia, ada sebuah harapan utama dari cita-cita pendidikan Islam saat ini. salah satunya, masyarakat Indonesia membutuhkan peran pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitas manusia. Maka, gagasan pembaruan atau modernisasi pendidikan, khususnya pendidikan Islam, menjadi diskurus pengembangan dalam kualitas pendidikan Islam.
Maka, dalam merespon pembaruan pendidikan tersebut, dengan melihat perspektif pendidikan Islam saat di Mekkah, ada beberapa bentuk kontekstualisasi pendidikan Islam di Mekkah ke dalam pendidikan Islam di Indonesia saat ini, yakni berupa nilai aktualisasi pendidikan Islam di Mekkah ke Indonesia, guna membentuk masyarakat madani Indonesia.
*       Visi Misi Pendidikan Islam
Dalam periode Mekkah visi misi yang di bangun saat itu lebih mengarah pada penekanan Islam secara mendasar. Masih kuatnya agama nenek moyang yang sudah bercampur dengan nuansa syirik, pendidikan Islam hanya menekankan pada penguatan nilai-nilai ke Tauhid-an. Pada era sekarang, tantangan pendidikan Islam semakin besar, Teuku Amiruddin (dalam Sanaky, 2003: 143) mengusulkan lima visi dasar yang tawarkan oleh UNESCO (United Nation Education Scientific, and Cultural Organization). Lima visi tersebut di antaranya:
Pertama, learning to think (belajar bagaimana berfikir), artinya proses pemberanian sikap kritis, mandiri, dan hobi membaca.
Kedua, learning how to do (belajar bagaimana melakukan), artinya memuat aspek-aspek ketrampilan dalam keseharian hidup termasuk bisa memecahkan permasalahan pribadi.
Ketiga, learning how to be (belajar bagaimana menjadi diri), artinya memuat aspek-aspek mendidik orang agar dikemudian hari, guna bisa tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mandiri, memiliki harga diri, dan bukan hanya sekedar memiliki having (materi).
Keempat, learning how to learn (belajar untuk belajar hidup), artinya menyadarkan bahwa pengalaman sendiri tidak cukup untuk sebagai bekal hidup, sehingga terjadi ketidakpuasan, dan selalu belajar dan belajar.
Kelima, learning live together (belajar hidup bersama), artinya masyarakat pendidikan memberikan ruang bagi pembentukan kesadaran bahwa manusia hidup dalam sebuah dunia yang global bersama banyak manusia dari belahan dunia dan ragamnya latar belakang.
Dalam konsep ini, bila dipadukan dengan Islam, setidaknya pendidikan Islam akan mengedepankan sikap rasional, kritis, mandiri, mampu memecahkan masalah, mengembangkan sikap kreatif, imajinatif, toleransi, perdamaian, menghargai hak asasi manusia serta siap bersaing di dunia yang semakin global, itulah cita-cita pendidikan Islam dalam rumusan visi misi yang ideal.
Akan tetapi, dalam rumusan idealnya visi misi tersebut, perlu dilandasi dengan core beliefs, core values, serta menetapkan berbagai program “kebijakan” dan “strategi”, yaitu menetapkan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan dengan memanfaatkan berbagai potensi yang ada. Core beliefs dalam Islam adalah upaya pengembangan pandangan hidup Islami untuk memanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan core values, memberikan makna sebuah proses akan pengabdian pada Allah Swt, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
*       Strategi Pendidikan Islam
Strategi atau tahap-tahap pendidikan Islam di periode Mekkah, dengan cara sembunyi-sembunyi, perseorangan, kemudian berlanjut secara terang-terangan, dan berlaku secara universal. Artinya, Strategi tersebut masih bisa di definiskan sebagai konsep dakwah. Dimana ada proses dan dilaksanakan secara step by step.
Sedangkan dalam pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan Islam kini, menurut Sanaky (2003: 145), ada empat strategi yang dikembangankan, pertama, pemerataan kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Kedua, relevansi pendidikan, ketiga, peningkatan kualitas pendidikan, dan keempat, efisiensi pendidikan (Sanaky, 2003: 145).
*       Reorientasi Tujuan Pendidikan
Di periode Mekkah, tujuan pendidikan saat itu terbatas dalam mengenal Islam secara mendasar dengan merujuk pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebagai turunan dari visi misi pendidikan Islam di atas, ada rumusan sederhana tujuan pendidikan Islam, yakni mengupayakan kebahagiaan di dunia dan akhirat, menghamba diri kepada Allah Swt, memperkuat keislaman, melayani kepentingan masyarakat Islam, dan akhlak mulia. Meminjam pendapat Hasan Langgulung, tujuan pendidikan berorientasi pada tujuan dari sumber tersebut, adanya realisasi dari pengetahuan, ketrampilan, tingkah laku, sikap, dan kebiasaan.
Pendapat ini di perkuat Ibnu Khaldun (dalam Ramayulis, 1998: 25-26) menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam mempunyai dua tujuan, yaitu; pertama, tujuan keagamaan, ialah beramal untuk akhirat sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan ke atasnya. Kedua, tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan hidup.
Muhammad Quthb (dalam Tafsir,  2008: 46) menambahkan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia taqwa, yakni selalu beribadah pada Allah (QS. adz-Dzariyat [51]: 56) sebagai syarat untuk mengaktualisasikan diri sebagai khalifah fil ardhi (QS. al-Baqarah [2]: 30 ; QS. al-Isra` [17]: 70).
Maka, sejatinya rumusan tujuan pendidikan Islam, sangat diharapkan manusia (maksud peserta didik) membentuk pribadi muslim dalam menentukan keeksistensiannya, berupa beribadah kepada Allah (QS. Adz Dzariyat [56]: 56) dan memegang peran sebagai khalifah fil ardhi (QS. al-Baqarah [2]: 30 ; QS. al-Isra` [17]: 70). Sanaky menambahkan, hal-hal tersebut yang sejatinya bisa menyentuh hal yang bersifat problematis, strategis, antisipatif, serta dapat menyentuh kepentingan masyarakat (Sanaky, 2003: 157). Maka, semangat Qur`ani di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, atau meminjam istilah Mangunwijaya dan Paulo Freire adalah pendidikan hadap masalah, artinya tantangan pendidikan sebagai langkah solusi dalam memecahkan problem masyarakat.
*       Reorientasi Kurikulum
Kurikulum pendidikan Islam di masa klasik sering disamakan dengan materi ajar. Dimana kurikulum atau materi ajar sangat terbatas pada pelajaran-pelajaran agama, demi menguatkan nilai-nilai tauhid, untuk beribadah pada Allah, dengan al-Qur`an dan as-Sunnah sumber pedoman hidup. Tetapi, dalam pandangan modern, kurikulum tidak hanya terbatas pada materi ajar, rencana pelajaran, atau bidang studi.
Akan tetapi orientasi kurikulum saat ini, dalam pandangan Ahmad Tafsir semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah, baik itu tujuan, isi, metode, proses, dan evaluasi belajar mengajar (Tafsir, 2008: 53-54).
Melihat potret kurikulum pendidikan Indonesia, sering terjadi bongkar-pasang (konstruksi) kurikulum. Perkembangan kurikulum mengalami beberapa tahap konstruksi mulai dari tahun 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 (KBK), 2006 (KTSP), (Muhaimin : 149). Terlebih dalam wacana sekarang ini (2013), terdapat proyek baru dalam dunia pendidikan Indonesia, yakni “kurikulum 2013” yang siap di terapkan pada pertengahan tahun 2013. Baik buruknya kurikulum ini, belumlah bisa dinilai, karena belum di terapkan.
Menanggapi hal tersebut, pendidikan Islam, secara teoritis dalam mengorientasikan kembali wacana kuriukulum, memiliki lima kompetensi utama yaitu:
Pertama, kompetensi islamiyyah, artinya kurikulum diorientasikan pada kemampuan peserta didik untuk memiliki seperangkat pemahaman dan pengetahuan tentang ajaran Islam, berupa perilaku beriman, berilmu, berkpribadian, berakhlaqul karimah, dan berkarya. Kedua, kompetensi knowledge, artinya program kurikulum diorientasikan pada kemampuan peserta didik memiliki pengetahuan, wawasan dan sikap profesional. Ketiga, kompetensi skills, artinya orientasi kompetensi mengarah pada penguasaan ketrampilan, keahlian berkarya, sikap dan perilaku sesuai dengan profesinya. Kelima, kompetensi ability, artinya peserta didik memiliki kemampuan analisis, mampu memecahkan masalah, mampu mengembangkan kepribadian yang optimal dan cara berkehidupan di masyarakat. Dan yang terakhir, keenam, kompetensi sosial-kultural, artinya memungkinkan peserta didik dalam membangun jaringan sosial (human relation), berinteraksi dengan dalam pergaulan masyarakat yang pluralistik dan lintas kultur, agama dan budaya.
*       Reorientasi Metodologi Pendidikan Islam
Metodologi pendidikan sering diartikan sebagai prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan, mengarahkan perkembangan seseorang, khususnya proses belajar mengajar. Dalam pendidikan Islam, metodologi diartikan usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga terjadilah perubahan pribadinya sebagai makhluk individual, sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup. Ahmad Tafsir (1998: 131), bahwasanya metode pendidikan Islam dalam pelaksanaan pengajaran adalah untuk mengembangkan aspek afektif menuju terbentuknya pribadi muslim.
Sedangkan menurut al-Nahwlawi (dalam Tafsir, 1998: 135), metode pendidikan Islam harus sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa, dan mengembangkan semangat. Di antara metode tersebut, antara lain: (a) metode hiwar (percakapan) Qur`ani dan Nabawi; (b) metode kisah Qur`ani dan Nabawi; (c) metode amtsal (perumpamaan) Qur`ani dan Nabawi; (d) metode keteladanan dan pembiasaan; (e) metode ibrah dan mau`izah; (f) metode targhib dan tarhib.
Metode tersebut, sekiranya sama halnya metode yang di kembangkan oleh pemikir pendidikan dari Barat yang mengistilahkan metode active learning (pembelajaran aktif). Dimana peserta didik terpusat sebagai subjek dan objek pendidikan. Tidak ada sentralisasi (dominasi) pembalajaran dari guru.
Melihat diskursus pendidikan saat ini, ada salah satu problematik dalam dunia pendidikan, yakni di khotomiknya ilmu. Dimana dalam sisi epistemologi pendidikan, pendidikan Barat cenderung antroposentris mengedepankan nilai-nilai kemasyarakatan, sedang pendidikan Islam terjebak pada dogma-dogma agama (Abdullah, 2001: 105-106). Artinya perlu ada semangat mengintegrasikan ilmu dan agama yang berujung pada internalisasi nilai-nilai Islam dalam ilmu modern.
Sebagai implikasinya, konsepsi metodologi dalam pendidikan Islam pun, mampu menjawab tantangan masyarakat (antrophosentris), yang tentunya berbasis nilai-nilai keagamaan. Maka, orientasikan metodologi pendidikan Islam adalah berupa pembelajaran (student learning) dengan paradigma holistik, rasional, partisipatori, pendekatan empirik deduktif, sehingga menghasilkan peserta didik yang berkualitas, kreatif, inovatif, yang mampu menerjemahkan dan menghadirkan agama dalam perilaku individu dan sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern mulia.
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Pokok pembinaan pendidikan Islam di kota Mekkah adalah pendidikan tauhid, titik beratnya adalah menanamkan nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa setiap individu muslim. Hal ini ditanamkan Rasulullah Saw, karena pada saat itu kondisi masyarakat Mekkah masih dalam keadaan jahiliyah dan masih banyak yang menyembah berhala. Tujuan penanaman nilai-nilai tauhid ini adalah agar jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Islam Mekkah merupakan Islam terberat bagi Nabi Muhammad SAW. Karena di Mekkah Nabi banyak mengalami kesulitan dan tantangan dari masayarakat Mekkah yang masih belum menerima adanya agama Islam. Hal ini dapat dilihat pada tahap awal Pendidikan Islam yang dilakukan Rasulullah yang dilakukan secara tersembunyi dan hanya berkisar pada kerabat dekatnya saja.
Dan seiring perkembangan zaman, tantangan pendidikan, khususnya dalam pendidikan Islam sangat besar. Dengan berpijak dasar pendidikan Islam di periode Mekkah, penulis berupaya mereaktualisasikan konsep pendidikan dalam dunia sekarang, khususnya sebagai respon dalam pendidikan Islam di Indonesia. Ada beberapa aspek bentuk orientasi yang di uaraikan, berupa visi misi, tujuan, kurikulum, dan metodologi dalam pendidikan Islam.
B.     SARAN
Tentulah dalam penulisan ini, masih luput dari berbagai kekurangan, karena perlu disadari banyaknya ragam pengetahuan yang ada. Keterbatasan dan kelemahan dari pengetahuan penulis juga mejadi faktor ketidaksempurnaan penulisa ini. Maka, masukan dari dosen dan mahasiswa, ataupun publik umum menjadi penutup di balik ketidaksempurnaan penulisan ini, semata berikhtiyar untuk mencari sebuah idealnya sebuah realitas khususnya dalam merespon diskursus pendidikan Islam.


DAFTAR PUSTAKA
Fiqmenulis, 2013, Sejarah Pendidikan Islam periode klasik Mekkah, https://fiqmenulis.wordpress.com/2013/05/14/sejarah-pendidikan-islam-periode-islam-klasik-mekkah/, diakses 15 Maret 2015 jam 12.19 WITA
Siti Muflihah, 2009, Pendidikan Islam pada masa Rasulullah, http://mufeecrf.blogspot.com/2009/10/pendidikan-islam-pada-masa-rasulullah.html, diakses 16 Maret 2015 jam 09.53 WITA
Imam_s, 2011, pendidikan islam muhammad di mekkah dan madinah, http://imaza17.blogspot.com/2012/04/pendidikan-islam-muhammad-di-mekkah-dan.html, diakses 16 Maret 2015 jam 10.00 WITA
Ilyas, Ibnu. Makalah studi SPI,  http://www.slideshare.net/ibnuilyaspws/makalah-i-studi-spi, diakses 17 Maret 2015 jam 12.46 WITA



0 komentar:

Posting Komentar