BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Kebudayaan
Islam periode Nabi Muhammad saw terbagi menjadi dua periode, yakni periode
Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah dimulai dengan diangkatnya beliau
menjadi Nabi dan Rasul. Sedangkan periode Madinah dimulai sejak Hijrahnya
Rasulullah dan kaum muslimin ke Madinah setelah lebih kurang 13 tahun berdakwah
di Mekkah.
Periode
Mekkah, Rasulullah saw berdakwah menegakkan tauhid dan dasar-dasar islam.
Karena kentalnya masyarakat Mekkah dengan agama nenek moyang mereka dan
keengganan mereka meninggalkan sesembahan mereka. Sehingga Rasulullah banyak
mendapatkan kecaman dan siksaan selama berdakwah di Mekkah. Setelah perjuangan
panjang lebih kurang 13 tahun, kemudian beliau memutuskan untuk hijrah ke
Madinah. Pada periode Madinah, Rasulullah saw berhasil membangun dan membina
masyarakat Islam yang kuat. Hal ini di sebabkan karena antusiasnya masyarakat
Madinah dalam memahami Islam yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya
yang telah lebih dahulu masuk Islam.
Mekkah
sebagai tempat pertama kali Rasulullah dalam berdakwah, tentunya dasar
pendidikan yang beliau kembangkan tentu punya nilai kesejarahan yang sangat
bermentalitas (ghirah yang kuat). Bagaimana metode, materi, kurikulum, dan
proses-proses pendidikan di Mekkah, serta bagaimana kontekstualiasi di masa
sekarang, yang sekiranya bisa dijadikan pertimbangan dalam mengembangkan
kualitas dalam pendidikan Islam sekarang, hal inilah dalam uraian lebih lanjut
akan dijelaskan di makalah ini. Semoga apa yang di deskripsikan dalam makalah
ini, senantiasa bisa menjadi inventariasi keilmuwan, khususnya keilmuwan
tentang sejarah pendidikan Islam.
B.
RUMUSAN MASALAH
Sehubungan
dari latar belakang tersebut, maka makalah ini menjelaskan tentang “Sejarah Pendidikan Islam Masa Rasulullah saw
periode Mekkah” dengan rumusan masalah yaitu :
1.
Bagaimana
Sejarah Pendidikan Islam di Mekkah?
2.
Bagaimana
Tahapan Pendidikan Islam di Mekkah?
3.
Bagaimana Lembaga
Pendidikan Islam di Mekkah?
4.
Bagaimana Materi
Pendidikan Islam di Mekkah?
5.
Bagaimana Metode
Pendidikan Islam di Mekkah?
6.
Bagaimana reaktualiasasi
Pendidikan Islam sebagai respon perkembangan dunia pendidikan?
C.
TUJUAN
PENULISAN
Dari rumusan
masalah tersebut, maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.
Mengetahui
Sejarah Pendidikan Islam di Mekkah
2.
Mengetahui
Tahapan Pendidikan Islam di Mekkah
3.
Mengetahui Lembaga
Pendidikan Islam di Mekkah
4.
Mengetahui Materi
Pendidikan Islam di Mekkah
5.
Mengetahui Metode
Pendidikan Islam di Mekkah
6.
Mengetahui reaktualiasasi
Pendidikan Islam sebagai respon perkembangan dunia pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH
PENDIDIKAN ISLAM DI MEKKAH
Pendidikan
Islam merupakan warisan dan perkembangan budaya manusia yang bersumber dan
berpedoman ajaran Islam dalam rangka terbentuknya kepribadian utama menurut
Islam. Munculnya ilmu pendidikan telah memotivasi umat Islam untuk menelusuri
perjalanan sejarah pendidikan Islam. Sejarah Pendidikan Islam pada masa
Rasulullah periode Mekkah, yakni Sejak Nabi diutus sebagai Rasul hingga hijrah
ke Madinah-kurang lebih sejak tahun 611 M-622 M atau selama 12 tahun tahun 5
bulan 21 hari, sistem pendidikan Islam lebih bertumpu kepada Nabi. Bahkan tidak
ada yang mempunyai kewenangan untuk memberikan atau menentukan materi-materi
pendidikan, selain Nabi.
Nabi
Muhammad Saw menerima wahyu yang pertama di gua Hira, Mekkah pada tahun 610 M.
Dalam wahyu itu termaktub yang artinya sebagai berikut : “Bacalah (ya
Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan (semesta alam)! Dia
menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang
mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya” (QS. al-Alaq:1-5).
Kemudian
disusul oleh wahyu yang kedua, artinya sebagai berikut: “Hai orang
berselimut (Muhammad). Bangunlah dan beri peringatan (kaummu)! Dan Tuhanmu
Agungkanlah ! Dan bersihkanlah pakaianmu 1 Dan tingggalkanlah dosa (berhala)!
Jangan engkau memberi, supaya mendapat lebih banyak! Dan sabarlah (menurut
perintah Tuhanmu)” (QS. al-Muddatstsir:1-7).
Dalam wahyu
yang mula-mula turun itu, Mahmud Yunus dalam sejarah pendidikan Islam,
menyatakan bahwa pembinaan pendidikan Islam pada masa Mekkah ini meliputi :
- Pendidikan Keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan mempersekutukanNya dengan berhala, karena Dia Tuhan yang Maha Besar dan Maha Pemurah, sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya.
- Pendidikan Aqliyah dan Ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta.
- Pendidikan Akhlaq dan Budi Pekerti, Nabi Muhammad Saw mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.
- Pendidikan Jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan, bersih pakaian, bersih badan dan bersih tempat kediaman.
B.
TAHAPAN
PENDIDIKAN ISLAM DI MEKKAH
Pola
pendidikan yang dilakukan Rasulullah Sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang
disampaikan kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini Kamaruzzaman di dalam buku
Sejarah Pendidikan Islam membagi kepada 3 tahap:
Pada awal
turunnya wahyu pertama Al Quran surat Al Alaq ayat 1-5, Pola pendidikan yang
dilakukan adalah sembunyi-sembunyi mengingat kondisi sosial-politik yang belum
stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula
Rasulullah mendidik isterinya, Khadijah untuk beriman dan menerima petunjuk
dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali ibn Abi Thalib (anak pamannya) dan Zaid ibn Haritsah (seorang
pembantu rumah tangganya yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya).
Kemudian sahabat karibya Abu Bakar Siddiq. Secara berangsur-angsur ajakan
tersebut di sampaikan secara meluas, tetapi masih terbatas di kalangan keluarga
dekat dari suku Quraisy.
Setelah sekitar 3 tahun
kemudian turun wahyu agar Rasulullah SAW berdakwah secara terang-terangan.
Firman Allah SWT :
Artinya :
Maka sampaikan olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu)
dan berpalinglah dari orang musyrik ( QS.Al Hijr : 94 )
Perintah
dakwah terang-terangan ini seiring dengan semakin bertambah banyaknya jumlah
sabahat Nabi SAW serta untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah. Banyak
tantangan dan penderitaan yang diterima Nabi dan sahabat-sahabatnya dari kaum Quraisy,
namun hal itu tidak menggoyahkan semangat untuk terus mempelajari ajaran Islam
dan terus berdakwah.
Kemudian
Rasulullah SAW merubah strategi dakwah dengan seruan umum, umat manusia secara
keseluruhan. Hal ini dilakukan pada musim-musim haji, ketika banyak kaum diluar
Mekkah berdatangan untuk melaksanakan haji. Pada tahapan ini berkat semangat
yang tinggi dari para sahabat dalam mendakwahkan ajaran Islam, maka seluruh
penduduk Yatsrib masuk Islam kecuali orang-orang Yahudi.
C.
LEMBAGA
PENDIDIKAN ISLAM PADA ISLAM MEKKAH
Dalam
catatan sejarah pendidikan Islam di periode Mekkah, menyebutkan ada dua tempat
yang menjadi lembaga pendidikan Islam pada periode Mekkah, di antaranya :
- Rumah Arqam ibn Arqam
Rumah Arqam
ibn Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta
Rasulullah Saw untuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah
ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali
dalam Islam, adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah
sendiri.
- Kuttab
Kuttab
merupakan tempat pendidikan yang paling tua, bahkan ada yang mengatakan Kuttab
lahir sebelum datangnya Islam. Pendidikan di Kuttab pada awalnya lebih terfokus
pada materi baca tulis sastra, syair Arab, dan pembelajaran berhitung namun
setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis al-Quran dan
memahami hukum-hukum Islam. Philip K. Hitti menambahkan, bahwasanya materi
pelajaran di Kuttab sangat berorientasi kepada al-Qur`an sebagai texbook. Kuttab
dalam modernisasi sekarang bisa disamakan dengan madrasah ibtidaiyyah. Adapun
waktu belajar di Kuttab, waktu pagi hingga dhuha mempelajari al-Qur`an, dhuha
hingga siang mempelajari cara menulis, sedang dhuha hingga siang, mempelajari
gramatikal Arab, matematika, dan sejarah.
Dua tempat
pendidikan tersebut, menjadi dasar perkembangan tempat-tempat pendidikan yang
semakin berkembangnya zaman, adanya inovasi, khususnya pada bangunan tempat
pendidikan, guna mengkondusifkan sebuah pengajaran.
D.
MATERI PENDIDIKAN
ISLAM DI MEKKAH
Islam yang
pertama kali lahir dari tanah Arab, dan tantangan pengajaran tentang Islam
pertama kali, bermuara di Mekkah. Mekkah yang sebelum kedatangan Islam, sangat
jauh dari nilai-nilai aqidah monotheisme (tauhid) sebagaimana yang sudah
di usung oleh junjungan Nabi-nabi sebelumnya. Sebagai implikasinya, Rasulullah
dalam penguatan materi pendidikan di periode Mekkah sangat mengutamakan
perbaikan aqidah dan tauhid.
Materi yang
diajarkan hanya berkisar pada ayat-ayat Makiyyah sejumlah 93 surat dan
petunjuk-petunjuknya yang dikenal dengan sebutan sunnah dan hadits. Dan materi yang diajarkan menerangkan tentang kajian keagamaan yang
menitikberatkan pada keimanan, ibadah dan akhlak.
Secara umum,
muatan materi pendidikan pada Islam periode Mekkah yang diberikan oleh
Rasulullah di bagi empat bagian, antara lain, yaitu :
Materi ini
lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim,
yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyyah. Secara teori, inti sari
ajaran ini termuat dalam kandungan surat al-Fatihah [1] : 1-7, dan al-Ikhlas
[112] : 1-5. Selain itu, pelaksanaan atau praktek pendidikan tauhid juga yang
diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dengan cara yang sangat
bijaksana yaitu dengan menuntun akal pikiran untuk mendapatkan dan meniru
pengertian tauhid yang di ajarkan, dan sekaligus beliau memberikan teladan dan
contoh bagaimana pelaksanaan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara
kongkrit, kemudian beliau memerintahkan agar umatnya mencontoh praktek
pelaksanaan tersebut sesuai dengan apa yang dicontohkannya. Berarti di sini
Nabi Muhammad SAW telah mampu menyesuaikan diri dengan pola kehidupan
masyarakat jahiliah dengan mengajarkan ilmu tauhid secara baik dengan tanpa
kekerasan.
Dalam materi
ini dirinci kepada: (1) Materi baca tulis (dalam dunia sekarang dikenal imla`
dan iqra`), (2) Materi menghafal ayat-ayat al-Qur`an, dan (3) Materi
pemahaman al-Qur`an (dalam dunia sekarang dikenal fahmi al-Qur`an atau tafsir
al-Qur`an (Yunus, 1989: 11-12).
Dimana berupa
perintah sholat yang awal mulanya, Nabi sholat bersama sahabat-sahabatnya
secara sembunyi-sembunyi. Namun setelah Umar ibn Khattab masuk Islam beliau
melakukannya secara terang-terangan. Pada mulanya sholat itu belum dilakukan
sebanyak lima kali sehari semalam kemudian setelah Nabi Isra’ dan Mi’raj
barulah diwajibkan untuk sholat lima waktu. Selain itu, mengajarkan seputar
zakat, yakni semasa di Mekkah konsep zakat diberikan kepada fakir miskin dan
anak-anak yatim serta membelanjakan harta untuk jalan kebaikan.
Di mana Nabi
semasa di Mekkah sangat menekankan kepribadian yang baik (akhlaqul mahmudah),
diantaranya :
1.
Adil yang
mutlak, meskipun terhadap keluarga atau diri sendiri.
2.
Pemaaf.
3.
Menepati
janji, tepat pada waktunya.
4.
Takut kepada
Allah semata dan tiada takut kepada berhala.
5.
Berbuat
kebaikan kepada kedua orangtua, dan sebagainya.
(Yunus, 1989: 11-12)
Pada Islam
Mekkah materi pengajaran al-Quran yang diberikan hanya berkisar pada ayat-ayat
al-Quran pada surah-surah yang diturunkan ketika Nabi sebelum Hijrah ke
Madinah. Surah yang diturun di Mekkah inilah yang kemudian dikenal dengan nama
surah Makkiyah.
E.
METODE
PENDIDIKAN ISLAM DI MEKKAH
Pendidikan
Islam adalah rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang
berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sesuai dengan
nilai-nilai Islam, sehingga terjadilah perubahan pribadinya sebagai makhluk
individual, sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup
(Mahrus & Salim, 2008: 162).
Untuk
mencapai pada pengertian pendidikan tersebut tentunya seorang pendidik
memerlukan metode-metode yang tepat dalam pelaksanaan pendidikan. Begitu juga
dengan Rasulullah dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Adapun metode pendidikan
yang dilakukan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya, antara lain :
- Metode ceramah.
- Dialog.
- Diskusi / tanya jawab.
- Metode perumpamaan.
- Metode kisah.
- Metode pembiasaan.
- Metode hafalan. (Nizar, 2007:35)
Adapun yang
menjadi salah satu faktor penting metode pendidikan Islam, adanya kejayaan
pendidikan Islam yang dijalankan Rasulullah Saw. Faktor tersebut ialah “karena
beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Rasulullah
Saw adalah al-Qur’an yang hidup (the living Qur’an), artinya pada diri
Rasulullah SAW tercermin semua ajaran al-Qur’an dalam bentuk nyata. Beliau
adalah pelaksana pertama semua perintah Allah dan meninggalkan semua
larangannya. Oleh karena itu para sahabat dimudahkan dalam mengamalkan ajaran
Islam yaitu dengan meniru perilaku Rasulullah Saw.”
F.
KURIKULUM
PENDIDIKAN ISLAM PERIODE MEKKAH
Kurikulum
merupakan pedoman ataupun dasar dalam pelaksanaan pendidikan. Pada masa
Rasulullah kurikulum yang digunakan adalah Al Quran yang Allah wahyukan sesuai
dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami pada saat itu.
Al-Qur’an pu merupakan sentral kurikulum saat itu, yang mana kurikulum saat itu
masih sering di definisikan dengan materi ajar. Maka, sebagai langkah awal,
muatan materinya berfokus pada nilai-nilai tauhid dalam menguatkan militansi
untuk beragama Islam. Philip K Hitti pun menambahkan, bahwasanya materi
pelajaran atau kurikulum sangat berorientasi kepada al-Qur`an sebagai texbook
(Susari, 2004: 33).
G.
TINJAUAN
PENDIDIKAN ISLAM PERIODE MEKKAH
Pada era
reformasi sekarang, khususnya potret pendidikan Islam di Indonesia, ada sebuah
harapan utama dari cita-cita pendidikan Islam saat ini. salah satunya,
masyarakat Indonesia membutuhkan peran pendidikan sebagai alat pembudayaan dan
peningkatan kualitas manusia. Maka, gagasan pembaruan atau modernisasi
pendidikan, khususnya pendidikan Islam, menjadi diskurus pengembangan dalam
kualitas pendidikan Islam.
Maka, dalam
merespon pembaruan pendidikan tersebut, dengan melihat perspektif pendidikan
Islam saat di Mekkah, ada beberapa bentuk kontekstualisasi pendidikan Islam di
Mekkah ke dalam pendidikan Islam di Indonesia saat ini, yakni berupa nilai
aktualisasi pendidikan Islam di Mekkah ke Indonesia, guna membentuk masyarakat
madani Indonesia.
Dalam
periode Mekkah visi misi yang di bangun saat itu lebih mengarah pada penekanan
Islam secara mendasar. Masih kuatnya agama nenek moyang yang sudah bercampur
dengan nuansa syirik, pendidikan Islam hanya menekankan pada penguatan
nilai-nilai ke Tauhid-an. Pada era sekarang, tantangan pendidikan Islam semakin
besar, Teuku Amiruddin (dalam Sanaky, 2003: 143) mengusulkan lima visi dasar
yang tawarkan oleh UNESCO (United Nation Education Scientific, and Cultural
Organization). Lima visi tersebut di antaranya:
Pertama, learning
to think (belajar bagaimana berfikir), artinya proses pemberanian sikap
kritis, mandiri, dan hobi membaca.
Kedua, learning how to do (belajar
bagaimana melakukan), artinya memuat aspek-aspek ketrampilan dalam keseharian
hidup termasuk bisa memecahkan permasalahan pribadi.
Ketiga, learning how to be (belajar
bagaimana menjadi diri), artinya memuat aspek-aspek mendidik orang agar
dikemudian hari, guna bisa tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mandiri,
memiliki harga diri, dan bukan hanya sekedar memiliki having (materi).
Keempat, learning
how to learn (belajar untuk belajar hidup), artinya menyadarkan bahwa
pengalaman sendiri tidak cukup untuk sebagai bekal hidup, sehingga terjadi
ketidakpuasan, dan selalu belajar dan belajar.
Kelima, learning live together (belajar
hidup bersama), artinya masyarakat pendidikan memberikan ruang bagi pembentukan
kesadaran bahwa manusia hidup dalam sebuah dunia yang global bersama banyak
manusia dari belahan dunia dan ragamnya latar belakang.
Dalam konsep
ini, bila dipadukan dengan Islam, setidaknya pendidikan Islam akan
mengedepankan sikap rasional, kritis, mandiri, mampu memecahkan masalah,
mengembangkan sikap kreatif, imajinatif, toleransi, perdamaian, menghargai hak
asasi manusia serta siap bersaing di dunia yang semakin global, itulah
cita-cita pendidikan Islam dalam rumusan visi misi yang ideal.
Akan tetapi,
dalam rumusan idealnya visi misi tersebut, perlu dilandasi dengan core
beliefs, core values, serta menetapkan berbagai program “kebijakan” dan
“strategi”, yaitu menetapkan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai
tujuan dengan memanfaatkan berbagai potensi yang ada. Core beliefs dalam
Islam adalah upaya pengembangan pandangan hidup Islami untuk memanifestasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan core values, memberikan makna
sebuah proses akan pengabdian pada Allah Swt, dengan menjunjung tinggi
nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Strategi
atau tahap-tahap pendidikan Islam di periode Mekkah, dengan cara sembunyi-sembunyi,
perseorangan, kemudian berlanjut secara terang-terangan, dan berlaku secara
universal. Artinya, Strategi tersebut masih bisa di definiskan sebagai konsep
dakwah. Dimana ada proses dan dilaksanakan secara step by step.
Sedangkan
dalam pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan Islam kini, menurut Sanaky
(2003: 145), ada empat strategi yang dikembangankan, pertama, pemerataan
kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Kedua, relevansi pendidikan, ketiga,
peningkatan kualitas pendidikan, dan keempat, efisiensi pendidikan
(Sanaky, 2003: 145).
Di periode
Mekkah, tujuan pendidikan saat itu terbatas dalam mengenal Islam secara mendasar
dengan merujuk pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebagai turunan dari visi misi
pendidikan Islam di atas, ada rumusan sederhana tujuan pendidikan Islam, yakni
mengupayakan kebahagiaan di dunia dan akhirat, menghamba diri kepada Allah Swt,
memperkuat keislaman, melayani kepentingan masyarakat Islam, dan akhlak mulia.
Meminjam pendapat Hasan Langgulung, tujuan pendidikan berorientasi pada tujuan
dari sumber tersebut, adanya realisasi dari pengetahuan, ketrampilan, tingkah
laku, sikap, dan kebiasaan.
Pendapat ini
di perkuat Ibnu Khaldun (dalam Ramayulis, 1998: 25-26) menyatakan bahwa tujuan
pendidikan Islam mempunyai dua tujuan, yaitu; pertama, tujuan keagamaan,
ialah beramal untuk akhirat sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan
hak-hak Allah yang diwajibkan ke atasnya. Kedua, tujuan ilmiah yang
bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan
tujuan kemanfaatan atau persiapan hidup.
Muhammad
Quthb (dalam Tafsir, 2008: 46) menambahkan bahwa tujuan pendidikan adalah
membentuk manusia taqwa, yakni selalu beribadah pada Allah (QS. adz-Dzariyat
[51]: 56) sebagai syarat untuk mengaktualisasikan diri sebagai khalifah fil
ardhi (QS. al-Baqarah [2]: 30 ; QS. al-Isra` [17]: 70).
Maka,
sejatinya rumusan tujuan pendidikan Islam, sangat diharapkan manusia (maksud
peserta didik) membentuk pribadi muslim dalam menentukan keeksistensiannya,
berupa beribadah kepada Allah (QS. Adz Dzariyat [56]: 56) dan memegang peran
sebagai khalifah fil ardhi (QS. al-Baqarah [2]: 30 ; QS. al-Isra` [17]:
70). Sanaky menambahkan, hal-hal tersebut yang sejatinya bisa menyentuh hal
yang bersifat problematis, strategis, antisipatif, serta dapat menyentuh
kepentingan masyarakat (Sanaky, 2003: 157). Maka, semangat Qur`ani di
implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, atau meminjam istilah Mangunwijaya
dan Paulo Freire adalah pendidikan hadap masalah, artinya tantangan pendidikan
sebagai langkah solusi dalam memecahkan problem masyarakat.
Kurikulum
pendidikan Islam di masa klasik sering disamakan dengan materi ajar. Dimana
kurikulum atau materi ajar sangat terbatas pada pelajaran-pelajaran agama, demi
menguatkan nilai-nilai tauhid, untuk beribadah pada Allah, dengan al-Qur`an dan
as-Sunnah sumber pedoman hidup. Tetapi, dalam pandangan modern,
kurikulum tidak hanya terbatas pada materi ajar, rencana pelajaran, atau bidang
studi.
Akan tetapi
orientasi kurikulum saat ini, dalam pandangan Ahmad Tafsir semua yang secara
nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah, baik itu tujuan, isi, metode,
proses, dan evaluasi belajar mengajar (Tafsir, 2008: 53-54).
Melihat
potret kurikulum pendidikan Indonesia, sering terjadi bongkar-pasang
(konstruksi) kurikulum. Perkembangan kurikulum mengalami beberapa tahap
konstruksi mulai dari tahun 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 (KBK), 2006 (KTSP),
(Muhaimin : 149). Terlebih dalam wacana sekarang ini (2013), terdapat proyek
baru dalam dunia pendidikan Indonesia, yakni “kurikulum 2013” yang siap di
terapkan pada pertengahan tahun 2013. Baik buruknya kurikulum ini, belumlah
bisa dinilai, karena belum di terapkan.
Menanggapi
hal tersebut, pendidikan Islam, secara teoritis dalam mengorientasikan kembali
wacana kuriukulum, memiliki lima kompetensi utama yaitu:
Pertama, kompetensi
islamiyyah, artinya kurikulum diorientasikan pada kemampuan peserta didik untuk
memiliki seperangkat pemahaman dan pengetahuan tentang ajaran Islam, berupa
perilaku beriman, berilmu, berkpribadian, berakhlaqul karimah, dan berkarya. Kedua,
kompetensi knowledge, artinya program kurikulum diorientasikan pada
kemampuan peserta didik memiliki pengetahuan, wawasan dan sikap profesional. Ketiga,
kompetensi skills, artinya orientasi kompetensi mengarah pada
penguasaan ketrampilan, keahlian berkarya, sikap dan perilaku sesuai dengan
profesinya. Kelima, kompetensi ability, artinya peserta didik
memiliki kemampuan analisis, mampu memecahkan masalah, mampu mengembangkan
kepribadian yang optimal dan cara berkehidupan di masyarakat. Dan yang
terakhir, keenam, kompetensi sosial-kultural, artinya memungkinkan
peserta didik dalam membangun jaringan sosial (human relation),
berinteraksi dengan dalam pergaulan masyarakat yang pluralistik dan lintas
kultur, agama dan budaya.
Metodologi
pendidikan sering diartikan sebagai prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan,
mengarahkan perkembangan seseorang, khususnya proses belajar mengajar. Dalam
pendidikan Islam, metodologi diartikan usaha membimbing, mengarahkan potensi
hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar,
sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga terjadilah perubahan pribadinya
sebagai makhluk individual, sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar
dimana ia hidup. Ahmad Tafsir (1998: 131), bahwasanya metode pendidikan Islam
dalam pelaksanaan pengajaran adalah untuk mengembangkan aspek afektif menuju
terbentuknya pribadi muslim.
Sedangkan
menurut al-Nahwlawi (dalam Tafsir, 1998: 135), metode pendidikan Islam harus
sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa, dan mengembangkan semangat. Di antara
metode tersebut, antara lain: (a) metode hiwar (percakapan) Qur`ani
dan Nabawi; (b) metode kisah Qur`ani dan Nabawi; (c)
metode amtsal (perumpamaan) Qur`ani dan Nabawi; (d) metode
keteladanan dan pembiasaan; (e) metode ibrah dan mau`izah; (f)
metode targhib dan tarhib.
Metode
tersebut, sekiranya sama halnya metode yang di kembangkan oleh pemikir
pendidikan dari Barat yang mengistilahkan metode active learning
(pembelajaran aktif). Dimana peserta didik terpusat sebagai subjek dan objek
pendidikan. Tidak ada sentralisasi (dominasi) pembalajaran dari guru.
Melihat
diskursus pendidikan saat ini, ada salah satu problematik dalam dunia
pendidikan, yakni di khotomiknya ilmu. Dimana dalam sisi epistemologi
pendidikan, pendidikan Barat cenderung antroposentris mengedepankan
nilai-nilai kemasyarakatan, sedang pendidikan Islam terjebak pada dogma-dogma
agama (Abdullah, 2001: 105-106). Artinya perlu ada semangat mengintegrasikan
ilmu dan agama yang berujung pada internalisasi nilai-nilai Islam dalam ilmu
modern.
Sebagai
implikasinya, konsepsi metodologi dalam pendidikan Islam pun, mampu menjawab
tantangan masyarakat (antrophosentris), yang tentunya berbasis
nilai-nilai keagamaan. Maka, orientasikan metodologi pendidikan Islam adalah
berupa pembelajaran (student learning) dengan paradigma holistik,
rasional, partisipatori, pendekatan empirik deduktif, sehingga menghasilkan
peserta didik yang berkualitas, kreatif, inovatif, yang mampu menerjemahkan dan
menghadirkan agama dalam perilaku individu dan sosial di tengah-tengah
kehidupan masyarakat modern mulia.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pokok
pembinaan pendidikan Islam di kota Mekkah adalah pendidikan tauhid, titik
beratnya adalah menanamkan nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa setiap individu
muslim. Hal ini ditanamkan Rasulullah Saw, karena pada saat itu kondisi
masyarakat Mekkah masih dalam keadaan jahiliyah dan masih banyak yang menyembah
berhala. Tujuan penanaman nilai-nilai tauhid ini adalah agar jiwa mereka
terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam
kehidupan sehari-hari.
Pendidikan
Islam Mekkah merupakan Islam terberat bagi Nabi Muhammad SAW. Karena di Mekkah
Nabi banyak mengalami kesulitan dan tantangan dari masayarakat Mekkah yang
masih belum menerima adanya agama Islam. Hal ini dapat dilihat pada tahap awal
Pendidikan Islam yang dilakukan Rasulullah yang dilakukan secara tersembunyi
dan hanya berkisar pada kerabat dekatnya saja.
Dan seiring
perkembangan zaman, tantangan pendidikan, khususnya dalam pendidikan Islam
sangat besar. Dengan berpijak dasar pendidikan Islam di periode Mekkah, penulis
berupaya mereaktualisasikan konsep pendidikan dalam dunia sekarang, khususnya
sebagai respon dalam pendidikan Islam di Indonesia. Ada beberapa aspek bentuk
orientasi yang di uaraikan, berupa visi misi, tujuan, kurikulum, dan metodologi
dalam pendidikan Islam.
B.
SARAN
Tentulah
dalam penulisan ini, masih luput dari berbagai kekurangan, karena perlu
disadari banyaknya ragam pengetahuan yang ada. Keterbatasan dan kelemahan dari
pengetahuan penulis juga mejadi faktor ketidaksempurnaan penulisa ini. Maka,
masukan dari dosen dan mahasiswa, ataupun publik umum menjadi penutup di balik
ketidaksempurnaan penulisan ini, semata berikhtiyar untuk mencari sebuah idealnya
sebuah realitas khususnya dalam merespon diskursus pendidikan Islam.
DAFTAR
PUSTAKA
Fiqmenulis,
2013, Sejarah Pendidikan Islam periode klasik Mekkah, https://fiqmenulis.wordpress.com/2013/05/14/sejarah-pendidikan-islam-periode-islam-klasik-mekkah/,
diakses 15 Maret 2015 jam 12.19 WITA
Siti
Muflihah, 2009, Pendidikan Islam pada masa Rasulullah, http://mufeecrf.blogspot.com/2009/10/pendidikan-islam-pada-masa-rasulullah.html,
diakses 16 Maret 2015 jam 09.53 WITA
Imam_s,
2011, pendidikan islam muhammad di mekkah dan madinah, http://imaza17.blogspot.com/2012/04/pendidikan-islam-muhammad-di-mekkah-dan.html,
diakses 16 Maret 2015 jam 10.00 WITA
Ilyas,
Ibnu. Makalah studi SPI, http://www.slideshare.net/ibnuilyaspws/makalah-i-studi-spi,
diakses 17 Maret 2015 jam 12.46 WITA

0 komentar:
Posting Komentar