BAB 1 PEMBAHASAN
A. PERBEDAAN
INDIVIDUAL ANAK USIA SD
Pada dasarnya setiap individu
memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang berbeda perbedaan-perbedaan tersebut
makin kentara sejalan dengan perkembangan
individu. Kata perbedaan dalam istilah perbedaan individual menurut
Landgren (1980:578) merupakan suatu variasi yang terjadi,baik pada aspek fisik
maupun psikologis.
Adapun perbedaan-perbedaan yang
muncul pada beberapa aspek perkembangan anak:
a. PERBEDAAN PADA
PERKEMBANGAN FISIK
Usia
7 hingga 11 atau 12 tahun merupakan usia remaja awal. Mereka ini umumnya sedang
mengalami pendidikan pada jenjang sekolah dasar. Usia awal memasuki sekolah
dasar bervariasi di banyak negara, mulai dari 5 tahun hingga 7 tahun. Bagi anak
yang memasuki usia sekolah dasar pada usia 6 tahun, dengan perjalanan yang
normal dia akan menyelesaikan pendidikan jenjang pada usia 12 tahun. Banyak
orang membagi anak usia remaja awal ini menjadi dua, “kanak-kanak tengah”
tengah (usia 7 – 9 tahun) dan periode kanak-kanak tengah-akhir (usia 10-11
tahun). Seperti bayi, balita, dan anak-anak prasekolah, anak-anak usia ini
lebih cepat tumbuh baik secara fisik maupun kognitif, meskipun pertumbuhannya
lebih lambat daripada anak usia dini. Untuk melihat perbedaan perkembangan fisik usia SD secara faktual dapat di teliti
pada waktu anak berbaris masuk kelas. Secara individual terlihat anak yang
memiliki tubuh tinggi,pendek,gemuk,kurus pada usia relatif sama.
Anak-anak
yang tidak menerima gizi yang memadai atau memerlukan perhatian khusus secara
medis mungkin berisiko terhambat atau mengalami keterlambatan perkembangan
pertumbuhannya.
Perubahan Fisik
Pada
awal masa kanak-kanak tengah, anak-anak biasanya menunjukkan perolehan
penampilan baru, Di mana tampil lebih ramping dan atletis. Anak perempuan dan
anak laki-laki masih memiliki bentuk tubuh dengan proporsi sama sampai dengan
keduanya mencapai pubertas (puberty),
proses di mana dorongan seksual anak-anak tumbuh kuat hingga ia dewasa. Setelah
pubertas, karakteristik seksual sekunder (secondary
sexual characteristic) mulai tampak, terutama bentuk kurva payudara pada
wanita serta suara yang lebih dalam dan bahu yang lebar pada laki-laki. Hal ini
membuat perbedaan antara perempuan dari laki-laki lebih nyata.
Pertumbuhan
tersebut juga sangat berbeda antara ras atau bangsa di berbagai
negara.anak-anak yang paling tinggi terdapat di daerah eropa tengah, australia
timur dan amerika serikat (meredith, 1969). Sedangkan dari berbagai daerah asia
tenggara , oceania dan amerika selatan anak-anak lebih rendah jika di
bandingkan dengan yang di sebut terdahulu. Pada umumnya anak-anak yang tinggi
tersebut tidak cepat matang daripada anak yang kekurangan gizi maupun sering
menderita sakit.
Perkembangan Otak dan
Sistem Saraf
Perkembangan
otak dan sistem saraf terus berlangsung selama masa kanak-kanak menengah.
Kemampuan perilaku dan kognitif yang lebih kompleks sejalan dengan makin
kuatnya sistem saraf pusat. Pada awal masa kanak-kanak tengah, percepatan
pertumbuhan terjadi di dalam otak, sehingga pada usia 8 tatau 9 tahun, organ
tubuhnya hampir sama dengan ukuran anak orang dewasa. Perkembangan otak selama
masa kanak-kanak tengah di tandai oleh pertumbuhan struktur yang spesifik,
khususnya lobus frontal.
Keterampilan Motorik
Keterampilam
motorik adalah berperilaku atau kemampuan melakukan gerak motorik. Keterampilan
motorik bruto (gross moor skill)
melibatkan penggunaan gerakan tubuh yang
besar. Keterampilan motorik halus (soft
motor skill)melibatkan penggunaan gerakan tubuh kecil. Kedua keterampilan
motorik kasar dan halus terus mengalami penyempurnaan pada masa kecil menengah.
Kesehatan
Masa
kanak-kanak tengah cenderung menjadi masa hidup yang sangat sehat bagi mereka,
terutama pada masyarakat Barat dan di negara-negara maju lainnya. Pada usia
dini biasanya muncul penyakit khas bagi anak-anak seperti pilek, batuk, dan
sakit perut. Aneka penyakit ini cenderung berkurang frekuensinya pada masa
kanak-kanak. Hal ini disebabkan karena peningkatan ketahan tubuh, peningkatan
kebersihan, dan perbaikan gizi. Meski penyakit yang diderita anak-anak usia ini
bersifat ringan, paling tidak tetap memerlukan perhatian medis. Penyakit ringan
dapat membantu anak-anak makin matang belajar keterampilan psikologis dan
mengatasi ketidaknyamanan fisik
b. PERBEDAAN PADA PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
Seperti halnya perbedaan pada
perkembangan fisik anak , pada tahap operasi konkret menurut piaget,anak-anak
dapat berpikir logis tentang suatu hal. Walaupun demikian,kadar dan cara anak
untuk berpikir logis terhadap sesuatu akan ada perbedaan. Perbedaan tersebut di
sebabkan juga oleh berbagai faktor. Misalnya seorang guru yang mengajar di
kelas 1 SD dengan hanya ceramah (verbalisme) dalam menerangkan konsep
pertambahan pada matematika, tidak akan membuat siswa berkembangan secara
maksimal. Lain hanlnya dengan guru yang menggunakan berbagai benda konkret
sebagai media unutk menyampaikan materi, akan membuat anak lebih cepat mengertian.
Ingatan
Anak usia sekolah lebih baik pada
keterampilan mengingat daripada rata-rata anak-anak yang berusia di bawahnya.
Lebih dari sekedar memahami dunianya, anak-anak yang lebih tua lebih tertarik
pada saat encoding dan mengingat
informasi.
Anak-anak
dapat mengingat lebih banyak ketika berpartisipasi dalam pembelajaran
kooperatif (cooperative learning), di
mana pendidikan diawasi oleh orang dewasa bergantung pada rekan-rekan
berinteraksi, berbagi, merencanakan, dan mendukung satu sama lain.
Anak yang Cerdas
Psikolog
inteligensi dan otoritas lainnya sangat terarik pada kecerdasan anak.
Kecerdasan adalah kapasitas kognitif yang merujuk pada pengetahuan, adaptasi,
dan kemampuan seseorang untuk berpikir dan bertindak secara sengaja. Sekitar
awal abad kedua puluh, Alfred dan Simon Theophile mengukur persepsi, memori,
dan kosa kata pada anak-anak. Kajian mendalam tentang tes kecerdasan dapat
dibaca dalam buku-buku psiologi.
c. PERBEDAAN PADA
PERKEMBANGAN MORAL
Perbedaan
yang dapat terjadi pada aspek perkembangan moral pada individu banyak
tergantung dari lingkungan bukan bawaan lahir. Lingkungan keluarga, teman
sebaya, dan sekolah atau guru membuat perbedaan pada perkembangan moral
anak.contoh perbuatan yang baik yang di berikan orang tua dan guru dengan cepat
akan di tiru anak usia SD seperti apa adanya. Adapun 2 pandangan ahli tentang perbedaan pada perkembangan
moral yaitu:
1.
Piaget dan tahapan moral
Menurut piaget konsepsi
anak mengenai moralitas berkembang pada dua tahap utama yang sejajar dengan
tahap-tahap pra-operasional.
Tahap pertama, hambatan moralitas
juga di sebut (heteronomous morality), bercirikan kekakuan ,penyesuaian yang
sederhana.para remaja melihat sesuatu seperti hitam dan putih tidak kelabu,jadi
cukup tegas karena mereka egosentrik.mereka berpendapat bahwa peraturan tidak
dapat berubah ,sehingga perilaku seseorang dapat betul atau salah.
Tahap kedua, moralitas kerja sama
juga di sebut (autonomous morality) bercirikan moral yang fleksibel
(kenyal).anak-anak yang telah matang banyak bergaul dengan teman sebaya maupun
dengan orang dewasa, mereka kurang bersifat egosentrik. Mereka berpendapat luas
yang sering kali bertentangan dengan yang terdapat di rumah.mereka berpendapat
bahwa tidak ada sesuatu yang tidak dapat diubah.kerana peraturan dibuat oleh
orang maka peraturan itu juga dapat diubah oleh orang lain sesuai
kebutuhan.mereka selalu mencari sesuatu di belakang tindakan, dan apabila
terjadi pelanggaran hukuman harus diterapkan dengan tepat.mereka dapat merumuskan
kode moralitasnya sendiri.
2.
Kohlberg dan alasan moral
Dari
penelitian yang dilakukan kohlberg berkesimpulan bahwa ada korelasi antara
tingkat alasan moral dengan tingkat kognitif. Menurut kenyakinan kholberg
dibelakang jawaban tersebut orang sampai pada penyesuain moral secara bebas
daripada standar internalisasi dari orang tua, guru dan teman sejawatnya.
Kholberg
melukiskan tiga tingkatan alasan moral sebagai berikut:
Tingkat
1, pra-conventional morality (anak usia
4-5 tahun) anak masih di bawah pengawasan orang tua dan tunduk pada peraturan
untuk mendapatkan hadiah atau menghindari hukuman
Tingkat
2, conventional morality(anak berusia
10-13 tahun). Anak-anak telah menginternalisasikan figur kekuasaan
standar.mereka patuh pada peraturan untuk menyenangkan orang lain atau
mempertahankan perintah.
Tingkat
3, post-conventional (anak usia 13
tahun atau lebih). Moralitas sepenuhnya internal.orang-orang telah mengenal
beberapa konflik standar moral dan memilih di antara standar tersebut.
Salah
satu masalah lain terhadap sistem kohlberg terletak pada prosedur tes yang
memerlukan waktu yang sangat banyak.tes standar harus di sajikan kepada setiap
subjek secara individual selanjutnya diskor oleh juri-juri terlatih. Salah satu
tes pilihan adalah Defining Issues Test (DIT).tes ini dapat di sajikan secara
kelompok dalam waktu pendek dan diskor secara objektif.
Kohlberg
telah mempunyai dampak yang sangat besar. Teorinya telah memperkaya pikiran
kita tentang bagaimana moralitas berkembang telah mendukung suatu asosiasi
antara kematangan kognitif dengan kematangan moral, dan telah menstimilasi
kedua penelitian dengan mengelaborasi beberapa teori perkembangan moral.
d. PERBEDAAN KEMAMPUAN
Setiap
anak usia SD mempunyai kemampuan berbeda-beda kemampuan di sini dapat di
artikan sebagai kemampuan berkomunikasi,bersosialisasi, atau kemampuan
kognitif.kemampuan berkomunikasi adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan
buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kalimat yang bermakna, logis dan
sistematis.kemampuan berbahasa sangat di pengaruhi oleh faktor intelektualitas
dan lingkungan, selain juga faktor fisik yaitu orga bebrbicara seseorang.
Kemampuan
bersosialisasi pada seorang anak pun berbeda-beda. Oleh karena itu wajar ada
anak yang mempunyai banyak teman, ada yang hanya mempunyai beberapa teman
dekat, atau seorang sahabar saja.Anak-anak melakukan permainan dengan peraturan
tertentu tidak sama dengan peraturan yang mereka buat sendiri.
Dua hal utama mengapa anak
memilih waktu bermain adalah untuk bermain sendirian atau dengan temannya,dan
menonton televisi.kedua kegiatan tersebut menyita waktu senggang mereka
sebanyak 50%-70%.anak-anak usia SD lebih banyak menonton televisi daripada
anak-anak dibawahnya ,dan usia 11-12 tahun lebih banyak lagi waktu untuk
menonton televisi.sedangkan anak-anak cacat jauh lebih banyak menonton televisi
daripada anak-anak normal kira-kira sebanyak 3 kalinya (W.A. Collins,1984).
Dari paparan
di atas, jelas terlihat perbedaan dalam bersosialisasi pad anak-anak
benyak di pengaruhi oleh lingkungan teman sebayanyadan juga karena pengaruh
kemajuan tekmologi.
Sesuatu yang dipikirkan teman
terhadap kita selalu berpengaruh atas kebahagiaan kita dan sering kali terasa
sampai jangka panjang. Pada umumnya anak yang selalu dicari oleh anak-anak lain
dikarenakan dia dimiliki keistimewaan atau popularitas tertentu, sehingga
menarik anak lain untuk berteman dengannya.
Mereka mampu berpikir bagi dirinya
sendiri, menularkan rasa percaya diri tanpa mengganggu atau menyinggung
perasaan orang lain. Kemampuan kognitif berkaitan dengan kemampuan menguasai
suatu ilmu pengetahuan dan teknologi. Faktor yang menonjol dalam membentuk
kemampuan kognitif adalah faktor pembentukan lingkungan alamiah dan lingkungan
yang dibuat.
Aspek perkembangan dan kemampuan pada seorang
anak yaitu:
1. Tes
IQ
IQ
tes dipergunakan untuk mengukur
kecakapan anak baik dilakukan secara individual maupun kelompok, untuk
mengetahui seberapa jauh anak mengetahui berbagai mata pelajaran yang diteskan kepada mereka. Dalam proses
ingin mengetahui kemampuan orang sebuah tes tidak dapat dilakukan hanya satu
kali tapi harus dilakukan beberapa kali. Skor IQ merupakan tes prediksi yang paling baik untuk mengetahui
prestasi anak-anak disekolah.
Oleh
karena itu mustahil dpat memisahkan
intelegensi dan prestasi pendidikan. Sekolah sangat berpengaruh tentang
kemamuan verbal akan tetapi juga berpengaruh pada performasi pada angka dan
tugas-tugas.
Pada
penelitian yang dilakukan diberbagai Negara seperti Amerika , Jepang, Cina, oleh para ahli peneliti internasional
menentukan kognitif yang berdasarkan pengalan umum. Suasana rumah juga sangat
berpengaruh pada hasil tes anak. Fungsi dari tes intelegensi bukan hanya untuk
mengukur intelegensi saja akan tetapi juga untuk mencari cara bagaimana
meningkatkan dan memperbaiki intelegensi itu. Apabila hal itu dilakukan
terhadap seluruh kelas atau sekolah, dengan sendirinya sekolah atau kelas
tersebut yang perlu mendapat perbaikan atau peningkatan, jadi bukan hanya
individu.
2. Pendidikan
khusus untuk anak cacat
Pengertian
anak cacat sebenarnya sangat luas. Istilah cacat dapat digunakan untuk
anak-anak yang mempunyai gangguan perkembangan pada fisik, intelektual, bahasa
atau gangguan ganda dari beberapa aspek perkembangan anak. Untuk menyikapi
perbedaan yang dimiliki anak-anak yang mengalami gangguan, guru-guru harus
dpersiapkan dengan kemampuan untuk menangani gangguan tersebut.
3. Sikap
orang tua dalam membentuk perbedaan individu
Guru
bukanlah satu-satunya orang dewasa yang dapat mempengaruhi dan membentuk
perbedaan anak disekolah. Tindakan orang tua agar anaknya berhasil dalam
mengikuti pendidikan disekolah antar lain:
a. Mereka
membaca, berbicara, dan mendengarkan pada anaknya, mereka menceritakan perihal
anaknya, bermain bersama, bersama-sama melakukan hobi, dan mendiskusikan
berbagai berita, program televise dan kejadin yang hangat.
b. Mereka
menyediakan tempat belajar dan menyiapkan buku-buku secara teratur.
c. Mereka
mempersiapkan makanan pada waktu tertentu denagn tepat, tempat tidur, dan
tempat mengerjakan pr dan berkenyakinan bahwa anaknya dapat mengikuti pelajaran
disekolah.
d. Mereka
selalu mengawasi waktu anak-anak menonton
televise, program yang dilihat , dan kegiatan anak setelah kembali dari
sekolah.
e. Mereka
menaruh perhatian tentang kehidupan anaknya disekolah, cerita anaknya tentang
kejadian disekolah dan berbagai masalah yang timbul selama anaknya sekolah.
4. Profesi
guru dalam menyikapi perbedaan
Salah
satu keberhasilan guru adalah apabila dia memiliki pengaruh yang besar terhadap
siswanya yang mendapat inspirasi
mencintai ilmu pengetahuan, rajin bekerja dan belajar. Banyak pada awal belajar
ornag tua banyak mengeluh anaknya tidak
memiliki potensi untuk belajar rajin, tetapi setelah guru membina dan
mendidik beberapa waktu lamanya, anak didiknya menunjukan peningkatan potensi
yang tajam hingga melampaui siswa-siswi yang lain. Hal semacam itu dapat
terjadi karena setiap guru pun memiliki karakter dan kemampuan yang berlainan
satu dengan yang lain.
B. Jenis
-jenis Kebutuhan Anak Usia SD
Pertama-tama,
perlu dijelaskan penggunaan beberapa istilah yang pemakaian sehari-harinya
sering bergantian. Istilah tersebut adalah “kebutuhan”, “dorongan”, dan
“motif”. Secara definisi istilah “dorongan” atau “motif” adalah keadaan dalam
diri pribadi seseorang yang merupakan pemicu dalam melakukan sesuatu perbuatan
untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “kebutuhan” lebih sering digunakan untuk mengacu pada keadaan
fisisologis seseorang yang tidak mempunyai suatu jaringan tertentu. Dari
penjelasan tadi, dapat tergambar bahwa sebenarx kebutuhan dan dorongan atau
motif berjalan seiring namun tidak sama.
Pada dasarnya, kebutuhan individu dapat dibedakan
menjadi dua kelompok besar, yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis Kebutuhan
fisiologis adalah kebutuhan primer seperti makan, minum, tidur, seksual atau
perlindungan diri. Sedangkan kebutuhan psikologis yang disebut juga kebutuhan
sekunder dapat mencakup kebutuhan untuk mengembangkan kepribadian pada
seseorang. Contohnya adalah kebutuhan untuk dicintai, kebutuhan
mengaktualisasikan diri, atau kebutuhan untuk memiliki sesuatu, dimana
kebutuhan psikologis tersebut bersifat lebih rumit dan sulit didefinisikan
segera.
a.
KEBUTUHAN
JASMANIAH PADA ANAK USIA SD
Sesuai
dengan perkembangan fisik anak usia anak SD yang bersifat individual, pada masa
tumbuh kembang tersebut, kebutuhan anak akan bervariasi misalnya seperti porsi
makanan dan minuman meningkat. Karena perkembangan tubuh dan juga kognitifnya,
anak usia SD membutuhkan makna yang bergizi sehingga perkembangan fisik dan
intelektualnya tidak terhambat.
Berkaitan
dengan kebutuhan pemeliharaan dan pertahanan diri, anak usia SD memasuki
tahapan perkembangan moral dan sosial yang memperhatikan pemuasan keinginan dan
kebutuhannya sendiri tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang. Oleh karena itu
guru perlu memberikan kesadaran kepada siswa, bahwa dia dapat menghadiri
hukuman dengan memohon maaf dengan cara yang baik agar tidak terkena sanksi
b.
KEBUTUHAN
AKAN KASIH SAYANG
Pada
tahap perkembngan sosial anak SD terutama yang duduk dikelas tinggi SD, sudah
ingin memiliki teman-teman tetap. Perkembangan tersebut juga sejalan dengan
kebutuhan unutk disayangi dan menyangi teman. Tidak hanya rasa kasih kepada
teman saja, tetapi juga sudah ada kebutuhan untuk memberikan rasa cinta
terhadap suatu benda. Misalnya anak usia SD sudah sadar akan mengoleksi sesuatu
yang merupakan kesenangannya bisa berupa prangko, komik, kartu, dan sebagainya
dan koleksi tersebut dirawat dengan hati-hati serta rasa sayang. Oleh karena
itu, guru perlu peka untuk mengarahkan anak-anak agar rasa kasih sayang sudah
muncul dapat terpelihara dan menjadikan anak-anak bersikap penuh kasih terhadap
sesuatu seperti menunjukkan minat siswa yang sudah dipujinya, memupuk serta
memelihara minat atau hobi para mahasiswa.
Pada
anak-anak yang duduk di kelas titnggi ( 4, 5 atau 6 ) di SD yang memasuki masa
bersosialisasi dan meninggalkan keangkhuannya, dapat menerima suatu otoritas
orang tua dan guru sebagai suatu yang wajar.
c.
KEBUTUHAN
UNTUK MEMILIKI
Pada
masa usia di kelas-kelas rendah di SD, anak-anak sudah mulai meninggalkan
dirinya sebagai pusat perhatian. Namun demikian, anak-anak di kelas rendah di
SD masih suka memuji diri sendiri, dan membandingkan dirinya dengan teman.
Sehingga kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki masih dominan. Artinya, segala
sesuatu baik teman-teman di sekolah maupun guru dipandang sebagai punya dirinya
sendiri, sehingga anak kadang-kadang anak usia ini suka meremehkan atau
mengacuhkan pendapat teman atau guru.
Dalam pemenuhan kebutuhan untuk
memiliki, guru perlu memberikan dorongan kearah yang positif tentang bagaimana
membentuk kelompok yang dapat bermanfaat misalanya dalam kegiatan pramuka. Guru
juga harus memberikan orientasi kepada anak-anak di usia ini, agar tiadak
begitu saja melakukan berbagai hal yang kadang-kadang berbahaya dan negatif,
hanya karena disuruh oleh teman kelompoknya.
d.
KEBUTUHAN
AKTUALISASI DIRI
Kebutuhan ini relatif lebih abstrak
dan kompleks, dan merupakan kebutuhan tingkat tinggi yang pada dasarnya
merupakan perkembangan dari kebutuhan-kebutuhan sebelumnaya. Kebutuhan ini
terasa mulai dominan pada anak-anak usia di kelas tinggi di SD. Pada usia
tersebut, anak-anak mulai ingin merealisasikan potensi-potensi yang dimilikinya
sehingga anak berusaha memenuhi kebutuhan tersebut dengan sikap persaingan,
atau berusaha mewujudkan keinginannya yang biasanya terdengar sangat tinggi dan
muluk seperti ingin jadi juara tinju, pembalap formula, astronot dan
sebagainya.
Salah satu kebutuhan yang terkait
dengan kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan berprestasi atau need for achievement. Karena anak-anak
SD di kelas tinggi sudah timbul keinginan untuk menjadi terhebat, maka mereka
berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai prestasi. Semua sikap dan tindakan
anak-anak tersebut juga dalam rangka pemenuhan kebutuhan untuk diakui. Di
sinilah guru berfungsi untuk memotivasi sikap kompetisi pada anak-anak menjadi
kompetisi yang sehat dan terarah.
DeCecco dan Grawford ( 1974 )
mengajukan 4 peranan guru untuk memberikan dan meningkatkan motivasi siswa,
yaitu:
1.
Membangkitkan
Semangat Siswa
Dalam kegiatan pembelajaran, guru
harus selalu peka terhadap perubahan kebutuhan siswa. Oleh karena itu guru bisa
menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran agar siswa tidak menjadi bosan.
Penting diperhatikan bahwa mengajak dan menjaga agar siswa tetapa belajar
adalah tugas guru dalam rangka menjaga semngat belajar. Siswa dapat diajak
bersama-sama memikirkan dan melakukan proses pembelajaran yang telah
direncanakan gurudalam rangka menjaga semangat belajar. Siswa dapat diajak
bersama-sama memikirkan dan melakukan proses pembelajaran yang telah
direncanakan guru. Oleh karena itu penting pula bagi guru untuk keadaan awal
para siswa.
2.
Memberikan
Harapan yang Realistis
Guru tidaka hanya menjelaskan
harapan yang realistis yang dapat dicapai siswa dengan keadaan perbedaan
siswa-siswinya, tetapi juga harus dapat memodifikasi atau merubagh
harapan-harapan yang tidak realistis yang dibebankan kepada siswa. Oleh karena
itu sebaiknya guru mempunyai data data tentang kemajuan akademis siswanya sejak
awal sekolah. Kegagalan-kegagalan dibidang apa saja yang sudah di alami
siswanya, sehinnga guru dapat mengukur harapan yang realistis bagi siswanya.
Jika siswa sudah banyak mengalami kegagalan di masa lampaunya, sedapat mungkin
guru harus bisa memberikan keberhasilan pada siswa tersebut.
3.
Memberikan
Intesif
Bila siswa banyak membuat
keberhasilan-keberhasilan, guru perlu memberikan intensif berupa penghargaan,
pujian, hadiah, atau kata-kata yang manis. Hala ini dapat memotivasi siswa
untuk berusaha mengulangi perbuatan yang positif tersebut. Sehubungan dengan
pemberian intensif, pemberian umpan baik oleh guru terhadap hasil kerja siswa,
akan sangat berguna untuk meningkatkan upaya siswa bekerja lebih baik lagi.
4.
Memberi
Pengarahan
Guru juga semestinya harus
mengatakan secara tegas kepada siswa apabila siswa berbuat kekeliruan, dengan
misalnya menunjukkan kekeliruan tersebut dan menunjukkan bagaimana seharusnya
siswa bertindak. Guru perlu pula meminta kepada siswanya untuk melakukan
tindakan yang diharapakan dengan sebaik-baiknya.
Demikianlah paparan materi tentang
beberapa jenis kebutuhan pada anak usia SD. Seperti telah disebut di atas,
kebutuhan-kebutuhan tersebut bisa muncul pada berbagai tahapan usia dengan
dominasi yang berbeda-beda pada setiap anak. Perbedaan kebutuhan dan kadar
kebutuhan tersebut sejalan dengan perbedaan perkembangan yang saat itu dialami
oleh masing-masing anak.
BAB 2
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jadi
kesimpulannya dalam perbedaan individual dalam anak usia sd memiliki beberapa
pebedaan-perbedaan yang muncul pada beberapa aspek perkembangan anak yaitu perbedaan pada
perkembangan fisik dimana dalam usia
anak sd ini biasanya tinggi, rendah, gemuk, dan kurus itu rata atau
imbang. Perbedaan pada perkembangan
intelektual dimana dalam tahap in anak-anak sudh mampu menerima materi meskipun
kadang kala mereka masih belum mampu untuk menerima materi dan kemudian ia akan
tidak dapat mengerjakan tugasnya. Perbedaan pada perkembangan moral dimana pada
masa-masa ini anak akan mengikuti tingkah laku seseorang yang mereka senangi
atau yang dekat dengannya. Perbedaan kemampuan dimana anak diusia sd memiliki
kemampuan yang berbeda-beda seperti kemampuan komunikasi , sosialisasi,
dan kognitif .
Kemudian
dalam jenis-jenis kebutuhan anak usia sd memiliki aspek kebutuhan jika
dikaitkan dengan kebutuhan anak sd yaitu kebutuhan jasmaniah pada anak usia sd
dimana pada masa ini anak-anak memerlukan asupan gizi yang baik. Kebutuhan akan
kasih sayang dimana dalam masa ini anak membutuhkan rasa dikasihi dan disayangi
oleh orang lain disekelilingnya dan memiliki sra syang dan kasih pula kepda
benda-benda yang dikasihinya. Kebutuhan untuk memiliki dimana anak usia sd
rendah masih menganggap sesuatu disekelilingnya adalah miliknya pribadi.
Kebutuhan aktualisasi diri dimana dalam ini anak usia sd tinggi memiliki
pemikiran dimana dia harus bisa menjadi orang yang terhebat.
Daftar Pustaka
Danim,Prof .Dr. Sudarwan. (2010) . Perkembangan Peserta Didik,Bandung:
Alfabeta.

1 komentar:
According to Stanford Medical, It is really the SINGLE reason women in this country live 10 years longer and weigh an average of 19 KG lighter than us.
(And realistically, it really has NOTHING to do with genetics or some secret-exercise and absolutely EVERYTHING to related to "how" they eat.)
BTW, What I said is "HOW", not "WHAT"...
Tap this link to uncover if this brief quiz can help you unlock your true weight loss potential
Posting Komentar